Rabu, 23 April 2014

Askep Kardiovaskular : Perikarditis

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Perikardium merupakan lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput pembungkkus terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan parietal dan viseral yang bertemu di pangkal jantung membentuk kantung jantung. Diantara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelicin untuk menjaga agar pergesekan antara perikardium pleura tidak menimbulkan gangguan terhadap jantung. Jantung bekerja selama kita masih hidup, karena itu membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah, pembuluh darah yang terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens dinamakan arteri koronaria.
Perikardium dapat terlibat dalam berbagai kelainan hemodinamika, radang, neoplasi, dan bawaan. Penyakit perikardium dinyatakan oleh tmbunan cairan (disebut efusi perikardium), radang (yaitu perikarditis). Perikarditis ialah penyakit sekunder dimanapun di tubuh contohnya penyebaran infeksi kedalam kantung perikareritematasus sistemik. Tetapi kadang-kadang perikarditis terjadi sebagai kelainan primer.
Pada perikarditis, ditemukan reaksi radang yang mengenai lapisan perikardium viseratis dan atau parietalis.ditemukan banyak penyebab tetapi yang paling sering ialah akut, perikarditis non spesifik (viral), infark miokard dan uremia.
Untuk itu dalam makalah ini kelompok akan menjelaskan tentang perikarditis  beserta asuhan keperawatannya dan diharapkan bisa membantu mahasiswa, tenaga kesehatan dan masyarakat umum untuk lebih memahami tentang masalah perikarditis.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Definisi dari perikarditis?
2.      Bagaimana Etiologi perikarditis?
3.      Apa patofisiologi nya?
4.      Bagaimana Manifestasi Klinis, Pathways, Pemeriksaan diagnostic, serta Penatalaksanaan medis dari perikarditis?
5.      Bagaimana ASKEP dari Perikarditis?
C.     Tujuan
1.      Memahami Definisi dari perikarditis
2.      Memahami Etiologi
3.      Memahami Patofisiologi
4.      Memahami anifestasi Klinis, Pathways, Pemeriksaan diagnostic, dan Penatalaksanaan medis
5.      Memahami ASKEP dari Perikarditis



BAB II
PEMBAHASAN

PERIKARDITIS AKUT
A.     Definisi
Perikarditis Akut (Acute Pericarditis) adalah peradangan pada perikardium (kantung selaput jantung), yang dimulai secara tiba-tiba dan sering menyebabkan nyeri. Peradangan menyebabkan cairan dan produk darah (fibrin, sel darah merah dan sel darah putih) memenuhi rongga perikardium.
Perikarditis adalah peradangan lapisan luar jantung (membran tipis yang mengelilingi jantung) (H. Winter Griffith M.D, 1994).
Perikarditis adalah peradangan pericardium parietal, pericardium viseral, atau kedua- duanya (Arif Mansyur).
Kesimpulannya pericarditis adalah peradangan lapisan paling luar jantung baik pada parietal atau viseral.
B.     Etiologi
Perikarditis akut memiliki bermacam-macam penyebab, mulai dari infeksi virus sampai kanker. Penyebab lainnya adalah:
1.      AIDS
2.      Serangan jantung (infark miokardial)
3.      Pembedahan jantung
4.      Lupus eritematosus sistemik
5.      Penyakit rematik
6.      Kegagalan ginjal
7.      Cedera
8.      Terapi penyinaran
9.      Kebocoran darah dari suatu aneurisma aorta.
Perikarditis akut juga bisa merupakan akibat dari efek samping obat tertentu (misalnya antikoagulan, penisilin, prokainamid, fenitoin dan fenilbutazon).
C.     Patofisiologi Perikarditis
Karena dekatnya proximal perikardium dengan beberapa struktur seperti pleura, paru-paru, sternum, diafragma dan miokardium, perikarditis mungkin diakibatkan oleh inflamasi atau proses peradangan / infeksi. Penyebab yang lain yaitu idiophatic, virus dan dapat didiagnosa dengan baik. Adanya agent menyebabkan inflamasi pericardial dan kerjanya meluas sampai terjadi iritasi. Kondisi dibawah normal bila naiknya volume ciaran di atas 50 ml dalam kantong perikardial. Ketika terjadi injury, exudat fibulu, sel darah putih dan endothelial sel dilepaskan untuk menutupi lapisan parietal dan viseral perikardial. Gesekan antara lapisan perikardial menyebabkan iritasi dan inflamasi sekeliling pleura dan jaringan. Exudat fibrin mungkin lokasinya hanya pada satu tempat di jantung atau mengisi ke seluruh tempat. Perikarditis akut dapat menjadi kering atau obstruksi vena-vena jantung dan drainage limpha, menyebabkan rembesan fibrin exudat dan serous cairan di kantong perikardial yang mana dapat menyebabkan terjadinya efusi purulent.
Proses radang yang terjadi dapat menimbulkan penumpukan cairan efusi dalam rongga pericardium dan kenaikan tekanan intracardial,kenaikan tekanan tersebut akan mempengaruhi daya kontraksi jantung,akhirnya menimbulkan proses fibrotic dan penebalan pericardial,lama kelamaan terjadi kontriksi pericardial dengan pembentukan cairan,jika berlangsung secara kronis menyebapkan fibrosis dan klasifikasi.
D.    
Manifestasi Klinis
Biasanya perikarditis akut menyebabkan demam dan nyeri dada, yang menjalar ke bahu kiri dan kadang ke lengan kiri. Nyerinya menyerupai serangan jantung, tetapi pada perikarditis akut nyeri ini cenderung bertambah buruk jika berbaring, batuk atau bernafas dalam. Perikarditis dapat menyebabkan tamponade jantung, suatu keadaan yang bisa berakibat fatal.
E.      Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik (mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop).
1.      Perikarditis dapat menyebabkan bunyi berderak yang mirip dengan bunyi keriat-keriut sepatu kulit.
2.      Foto rontgen dada dan ekokardiografi dapat memperlihatkan banyaknya cairan di dalam perikardium. Ekokardiografi juga dapat menunjukkan penyebabnya (misalnya tumor) dan menunjukkan tekanan cairan perikardium pada bilik jantung kanan. Tekanan yang tinggi merupakan tanda kemungkinan terjadinya tamponade jantung.
3.      Pemeriksaan darah bisa menunjukkan beberapa keadaan yang menyebabkan perikarditis, seperti leukemi, AIDS, infeksi, demam rematik dan kadar urea darah yang meningkat yang disebabkan oleh gagal ginjal.
F.      Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan dari perikarditis akut bervariasi, tergantung kepada penyebabnya.
1)      Penderita kanker mungkin memberikan respon terhadap kemoterapi (obat anti kanker) atau terapi penyinaran; tetapi biasanya penderita menjalani pembedahan untuk mengangkat perikardium.
2)      Penderita gagal ginjal mungkin akan memberikan respon terhadap perubahan programdialisa yang dijalaninya.
3)      Infeksi bakteri diobati dengan antibiotik dan nanah dari perikardium dibuang melalui pembedahan.
4)      Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka pemakaian obat tersebut segera dihentikan.
5)       Aspirin, ibuprofen atau corticosteroid diberikan kepada penderita yang mengalami perikarditis berulang yang disebabkan oleh virus.
Pada beberapa kasus diberikan colchicine.
6)      Jika penanganan dengan obat-obatan gagal, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat perikardium.


PERICARDITIS KRONIS
A.     Definisi
Perikarditis Kronis (Chronic Pericarditis)adalah suatu peradangan perikardium (kantung jantung) yang menyebabkan penimbunan cairan atau penebalan dan biasanya terjadi secara bertahap serta berlangsung lama.
Pada perikarditis efusif kronis, secara perlahan cairan terkumpul di dalam perikardium.
B.     Etiologi
Biasanya penyebabnya tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh kanker, tuberkulosis atau penurunan fungsi tiroid. 
Sebelumnya tuberkulosis adalah penyebab terbanyak dari perikarditis kronis di AS, tetapi saat ini hanya 2% kasus yang disebabkan oleh tuberkulosis. Di Afrika dan India, tuberkulosis masih merupakan penyebab tersering dari semua bentuk perikarditis.
C.     Manifestasi Klinis
Gejala dari perikarditis kronis antara lain:
1.      Sesak nafas, batuk (karena tekanan tinggi pada vena paru-paru mendorong cairan masuk ke dalam kantung-kantung udara)
2.      Kelelahan (karena kerja jantung menjadi tidak efisien).
3.      Tidak menimbulkan rasa nyeri.
4.      Bisa terjadi penimbunan cairan di perut dan tungkai.
Gejala-gejala yang dapat menjadi petunjuk penting bahwa seseorang menderita perikarditis kronis adalah tekanan darah tinggi, penyakit arteri koroner atau penyakit katup jantung.
D.     Pemeriksaan Diagnostik
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan 2 prosedur berikut:
1.      Kateterisasi jantung : digunakan untuk mengukur tekanan darah di dalam bilik jantung dan pembuluh darah utama
2.      MRI scan atau CT scan : digunakan untuk mengukur ketebalan perikardium. Dalam keadaan normal, tebal perikardium kurang dari 0,3 cm, tetapi pada perikarditis konstriktif kronis tebalnya mencapai 0,6 cm atau lebih.
E.      Penatalaksanaan Medis
1.      Diuretik (obat yang membuang kelebihan cairan) bisa memperbaiki gejala, tetapi penyembuhan hanya mungkin terjadi jika dilakukan pembedahan untuk mengangkat perikardium.
2.      85% penderita yang menjalani pembedahan mengalami penyembuhan. Pembedahan memiliki resiko kematian sebesar 5-15%, karena itu pembedahan hanya dilakukan jika penyakit ini telah sangat mengganggu aktivitas penderita sehari-hari.

PERICARDITIS KONSTRIKTIF
A.     Definisi
Perikarditis konstriktif adalah suatu penyakit yang disebabkan inflamasi kronik pada perikardium yang diikuti oleh penebalan jaringan parut serta kontraktur.
Perikarditis konstriktif kronis adalah penyakit yang jarang, yang biasanya terjadi jika jaringan fibrosa terbentuk di sekitar jantung.  Jaringan fibrosa cenderung untuk menetap selama bertahun-tahun, menekan jantung dan membuat jantung menjadi mengecil.
B.     Etiologi
Etiologi dari perikarditis konstriktif adalah multipel dan sangat bervariasi. Sebenarnya semua hal yang menyebabkan perikarditis akut dapat menyebabkan perikarditis konstriktif kecuali demam rematik. Dari beberapa penelitian, perikarditis konstriktif dapat disebabkan oleh :
1.      Operasi jantung sebelumnya
2.      Radiasi dada
3.      Pasca infark luas
4.      Sarkoidosis
5.      Trauma dada
6.      Infeksi virus akut (adenovirus dan coxsackie virus) atau kronis (TBC)
7.      Keganasan
C.     Manifestasi Klinis
Penemuan klinis yang khas pada pasien perikarditis konstriktif yang paling sering adalah:
1.      Keluhan cepat lelah (fatigue) disertai dyspnoe atau orthopnoe.
2.      Dari pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan tekanan vena jugularis.
3.      Selain itu sering didapatkan adanya asites dan hepatomegali dengan atau tanpa edema perifer, serta efusi pleura. Kelainan ini timbul perlahan-lahan dalam perjalanan penyakit sehingga pada awalnya sering tidak disadari oleh penderita. 
4.      Dari auskultasi ditemukan mengerasnya bunyi jantung ke-3 yang disebut pericardial knock.
D.     Pemeriksaan Diagnostik
Dibutuhkan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk menegakkan diagnosis perikarditis konstriktif dengan baik dan tepat.
1.      Dari pemeriksaan laboratorium ditemukan hipoproteinemia berat dengan penurunan albumin maupun gammaglobulin. Hal ini disebabkan oleh terjadinya protein-losing enteropathy.
2.      Pada foto toraks terdapat kardiomegali sedang sampai berat pada sepertiga kasus, dan dapat disertai kalsifikasi pericardium.
3.      Gambaran EKG biasanya abnormal dengan adanya perubahan gelombang T dan segmen ST yang nonspesifik (90%), voltase kompleks QRS yang rendah (40%), dan sering juga terdapat fibrilasi atrium (30%).
4.      USG abdomen dilakukan untuk mencari penyebab asites yang saat itu diperkirakan disebabkan oleh penyakit hati kronis. Cairan asites juga diperiksa baik sitologi maupun kultur untuk mencari kausa.
5.      Pemeriksaan ekokardiografi 2 dimensi dapat memperlihatkan penebalan perikardium, pergeseran septum interatrial ke kiri, dilatasi vena kava superior dan inferior serta vena hepatika.
6.      Pada kateterisasi jantung yaitu berupa peningkatan tekanan pada akhir diastolik yang terjadi bersamaan pada atrium kiri, atrium kanan dan arteri pulmonalis.
7.      Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yaitu CT scan dan MRI.           
E.      Penatalaksanaan Medis
Pengobatan definitif adalah perikardiektomi. Perikardiektomi memperbaiki hemodinamik yang abnormal dan terbukti menghasilkan perbaikan klinis. Operasi dapat dilakukan melalui 2 insisi:
1.      Sternotomi mediana : insisi sternotomi memberikan paparan yang lebih baik untuk membebaskan ventrikel kanan dan merupakan pilihan bila akan dilakukan  cardiopulmonary bypass sedangkan Torakotomi (torakotomi anterolateral kiri atau torakotomi anterior bilateral)  : memberikan paparan yang lebih baik untuk membebaskan ventrikel kiri dan diafragma.
2.       Setelah insisi sternotomi, dilakukan pembebasan outflow tract yaitu arteri pulmonalis diikuti aorta.
3.      Kemudian dilakukan pembebasan inflow tract yaitu vena kava superior dan vena kava inferior. Hal ini dilakukan untuk mencegah pasien jatuh ke dalam edema paru dan gagal jantung kanan jika inflow tract dibebaskan lebih dahulu.
4.      Bila pembebasan outflow tract gagal karena perlengketan berat, maka dilakukan draping dengan preservasi arteri dan vena femoralis untuk pemasangan kanula cardiopulmonary bypass.
Adekuat atau tidaknya reseksi dapat dinilai di dalam ruang operasi dengan mengukur tekanan rata-rata atrium kanan dan tekanan diastolik akhir ventrikel kanan. Biasanya terdapat regresi / penurunan cepat terhadap nilai normal. Kadang-kadang selama periode perioperatif terdapat beberapa bukti turunnya curah jantung yang memberi respon terhadap zat-zat inotropik seperti dopamin. Atau pada beberapa kasus, pompa balon intraaortik diperlukan selama beberapa hari.         


ASKEP KEPERAWATAN
A.     Pengkajian
Data Dasar pengkajian klien
1.      Aktivitas / istirahat : Kelelahan, kelemahan , takikardi, penurunan TD, dispnea dengan aktivitas.
2.      Riwayat demam rematik, penyakit jantung kongenital, bedah jantung, palpitasi, sincope, takikardi, disritmia, friction rub perikardia ( biasanya intermitten terdengar dibatas sternal kiri )
3.      Eliminasi                                 
Riwayat penyakit gagal ginjal, penurunan frekuensi/ jumlah urine, urine pekat gelap.
4.      Ketidaknyamanan
Nyeri  pada dada anterior, diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakan menelan, berbaring, hilang dengan duduk dan bersandar ke depan.
5.      Pernafasan
Nafas pendek, memburuk pada malam hari. dipsnea nokturnal, batuk, inspirasi mengi.
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan inflamasi perikardium
2.      Intolerans aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung
3.      Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan akumulasi cairan dalam kantung perikardial
4.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang inforamasi tentang proses penyakit
C.     Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien
D.     Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya.
Diagnosa Keperawatan
NOC (Tujuan Kriteria Hasil)
NIC (Intervensi)
Implementasi
Nyeri berhubungan dengan inflamasi perikardium
Rasa nyaman klien terpenuhi dengan kriteria hasil : nyeri berkurang atau hilang.
Mandiri :
Kaji keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat atau penurun. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan misalnya berbaring dengan diam atau gelisah, tegangan otot, menangis.







Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.








Ciptakan lingkungan yang tenang.




Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik dan antibiotik.

Nyeri perikarditis secara khas terletak subternal dan dapat menyebar keleher dan punggung. namun ini berbeda dari iskemia miokard / nyeri infark. pada nyeri ini menjadi memburuk pada inspirasi dalam, gerakan, atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak atau membungkuk.
                               
Pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.

Rangsangan yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri.

Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien dan obat antibiotik dapat menyembuhkan infeksi dan mencegah terjadinya perluasan infeksi.
Intolerans aktivitas berhubungan dengan penurunan curah jantung
Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas
Kaji respon terhadap aktivitas, perhatikan adanya perubahan dalam keluhan kelemahan, keletihan, dan dipsnea berkenaan dengan aktivitas


Pantau frekuensi atau irama kjantung, TD dan frekuensi pernafasan sebelum atau setelah aktivitas

Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi

Bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap
Penurunan pengisian dan curah jantung dapat menyebabkan pengumpulan cairan dalam kantung perikardial pada perikarditis

Membantu menentukan derajat dekompensasi  jantung dan pulmonal

Meningkatkan resolusi inflamasi selama fase akut dari perikarditis

Saat inflamasi atau kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mekakukan aktivitas yang diinginkan
Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan akumulasi cairan dalam kantung perikardial
Menunjukkan penurunan episode dipsnea, angina dan disritmia.
Pantau frekuensi atau irama jantung








Auskutasi bunyi jantung.





Anjurkan tirah baring dalam posisi semi fowler.


Selidiki nadi cepat, hipotensi, penyempitan tekanan nadi, peningkatan CVP, penurunan tingkat kesadaran.







Kolaborasi :
Berikan oksigen






Berikan obat-obatan sesuai indikasi ( digitalis dan diuretik )





Bantu dalam pericardiosintesis darurat







Siapkan pasien untuk pembedahan bila diindikasikan
Dipsnea dapat terjadi saat jantung berupaya untuk meningkatkan curahnya, berespon pada demam, hipoksia dan asidosis karena iskemia

Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi misalnya GJK, tamponade jantung.

Menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung.

Manifestasi klinis dari tamponade jantung yang dapat terjadi pada perikarditis bila akumulasi cairan atau eksudat dalam kantung perikardial membatasi pengisian dan curah jantung


Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk fungsi pericardium dan menurunkan efek metabolisme anaerob.

Dapat diberikan untuk meningkatkan kontraktilitas pericard dn menurunkan beban kerja jantung.

Prosedur dapat dilakukan ditenpat tidur untuk menurunkan tekanan cairan disekitar jantung yang dapat dengan cepat memperbaiki curah jantung

Pericardektomy mungkin diperlukan karena akumulasi cairan perikardial berulang atau jaringan parut dan konstriksi fungsi jantung.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang inforamasi tentang proses penyakit.
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi individu dan kebutuhan individu.

Mandiri :
Kaji tingkat pemahaman klien tentang kondisi dan prognosis penyakit.









Gunakan komunikasi terapeutik.






Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

Membuat data dasar pada penyuluhan kesehatan. peningkatan gejala jantung berat dapat menandakan kebutuhan klien sksn informasi yang lebih bayak atau bantuan perawatan diri yang diperlukan.

Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat meningkatkan pengetahuan pasien




BAB III
PENUTUP

A.     Simpulan

Pericarditis adalah peradangan lapisan paling luar jantung baik pada parietal atau viseral. Perikarditis terdiri dair perikarditis akut, kronis, dan konstriktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar